Tuesday, 8 November 2011

Amin Rais Politisi Yang Merakyat Intelektual yang Shaleh.

Ditulis oleh Mohammad Ichlas El Qudsi, M.Si
AMIN RAIS POLITISI YANG MERAKYAT INTELEKTUAL YANG SHALEH
Judul buku : Amin Rais Politisi Yang Merakyat Intelektual yang Shaleh. Penulis : Firdaus Syam, MA. Penerbit : Pustaka Kautsar. Peresensi : Moh. Iqlas El Qudsi. M.Si. Tebal Buku : 137 Halaman

Kilas perjuangan politik Amin Rais, membayangkan kita pada sosoknya yang idealis, lihai, sekalikus candikia dan negarawan sejati. Dalam bingkai kecandikiaan dan kenegarwanan inilah Amin Rais meletakkan dasar-dasar konsepsi dan idealisme politiknya di tengah-tengah situasi dan kondisi politik nasional yang kronik akibat penghancuran dan pelumpuhan sistim demokrasi oleh kekuasaan absolut rezim Orde Baru.
Langkah poltik Muhammad Amin Rais (MAR) yang paling awal menarik perhatian masyarakat luas adalah yang dilakukannya pada sidang Tanwir Muhammadiyah di Surabaya (1993). Ketika itu MAR mulai mengangkat isu pergantian kepemimpinan nasional (suksesi). Setelah SU MPR 1993 baru, memilih kembali Pak Harto sebagai presiden RI untuk yang ke-6 kalinya. Tentu saja, langkah Amin Rais terhitung sangat berani, karena saat itu kata suksesi amat jarang disampaikan di tempat yang terbuka. (halaman xx).

Muhammad Amin Rais adalah seorang candikiwan generasi baru satu angkatan dengan Nur Kholis Majid. Berbeda dengan rekannya yang cenderung sangat akomodasionis terhadap pemerintahan Orde Baru, Amin Rais digolongkan dalam kategori kelompok Islam garis geras (hard line) dan ekstrim kanan yang turut diwaspadai oleh Orde Baru.


Selepas menyelesaikan pendidikan di AS, ia kemudian kembali ke tanah air dan aktif menyanmpaikan gagasan-gagasannya baik berkaitan dengan masalah keummatan, bangsa maupun kehidupan politik secara luas sampai kepada persoalan internasional. (halaman 179).

Ia tidak saja berbicara di forum-forum Muhammadiyah tapi juga merambat pada ruang sosial lain seperti pelajar, pemuda, mahasiswa dan masjid serta forum-forum studi. Bahkan ditahun 1980, pemikiran dan gagasan-gagasannya tentang politik, agama bangsa dan negara atau politik pemerintahan termuat diberbagai media baik cetak maupun elektronik serta diberbagai penerbitan.
Amin Rais dimasa-masa itu tidak saja menjadi simbol candikia yang religis, tapi juga karena pemikiran dan pernyataannya yang keras dan bertolak belakang dengan kepentingan rezim seolah memposisikannya menjadi simbol perlawanan, ketika masih sedikit sekali orang berbicara tentang keadilan dan atau masih mengeramkan ide dan pemikran poltik di bawah kungkungan rezimentasi tirani orde baru.

Dalam pemikiran relasi agama dan negara, MAR sangat menolak ide sekularisme dan sekularisasi yang dikemukakan Cak Nur. Baginya agama dan politik harus memiliki hubungan yang integrity. Namun pada dimensi yang lain terminologi keindonesiaan ia selalu meletakkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar asas dalam bermasyarakat dan berkelompok. Hal ini terbukti ketika ia mendirikan partai PAN, meskipun anggotanya 95% berasal dari kalangan Islam (Muhammadiyah) tapi justru ia jadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai asas partai. Persepsinya terhdap relasional agama dan negara diletakkan pada cara setiap orang atau masyarakat menjalankan tugas kewargaan. Bagi MAR masyarakat beragama adalah yang menajalankan kehidupan sebagai warga dengan cara yang mulia dan bertujuan untuk mencapai kehidupan yang sejahtera (Baldatun Tayibatun wa Robbun Gafuur).
Dalam kaitannya dengan relasi agama dan negara ini MAR menjelaskan bahwa “ gambaran saya mengenai sebuah negara yang melaksanakan Islam adalah suatu negara yang menciptakan masyarakat yang egaliterian, yang para pemimpinnya berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan senantiasa mengeliminir atau setidak-tidaknya meminimalisasi eksploitasi manusia terhadap manusia lainnya dalam segala bentuk dan manifestasinya.

Adapun negara itu kita namakan sosialis, pancasilais atau apa saja, bagi saya itu masalah formalisme atau masalah penamaan belaka. Selain itu bagi MAR, suatu negara yang melindungi hak asasi manusia semua warga negara tanpa diskriminasi, maka negara itu telah melaksanakan syari’ah Islam. (halaman : 183).

Keteguhan atau kekonsistenannya pada landasan ideal politiklah yang telah mencitrakannya sebagai sosok politisi yang patut diteladani. Terutama konsepsi da’wa yang selama ini ditermahkannya dalam setiap derap langkah-langkah politiknya. Bagi MAR poltik bukan hanya semata permainan, sekedar menang atau kalah, mendapatkan kekuasaan, membangun pengaruh dan kekuatan, menghancurkan pesaing dengan segala cara. Politik baginya merupakan sebuah amanah untuk mengembangkan kemaslahatan bagi semua orang, maka berpolitik itu bagian dari ibadah atau dakwah dengan tujuan untuk menjalankan nilai-nilai kebenaran yang diperintahkan Tuhan. (halaman 185-186).

Dalam melihat persoalan kebangsaan dan khususunya Ummat Islam, MAR memiliki cara pandang tersendiri. Menurutnya problematika ummat tidak hanya pada lapisan akar rumput (grass root), terjadinya juga karena kelemahan kepemimimpinan, kelemahan ukhuwah bahkan mungkin kelemahan tauhid. Oleh karena itu, menurutnya, tauhid merupakan fondasi seluruh bangunan ajaran Islam. Tauhidu menurut MAR adalah : kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan tuntunan hidup (unity of guden), dan kesatuan tujuan hidup (unity of purposeof life). Ini semua merupakan derivasi dari kesatuan Tuhan (unity of godhead). (halaman : 187).

Dalam persoalan demokrasipun MAR berbicara dengan sangat tegas, bahwa demokrasi meniscayakan adanya chake and balances mendorong terciptanya tatanan masyarakat civil socaety. Dan dengan ini, masyarakat harus menjadi bagian kekuatan pengontrol yang terus dibiarkan hidup. Dengan asumsi demokrasi seperti ini, bagi MAR segala perilaku yang tidak demokratis harus dikoreksi dengan tegas oleh rakyat sebagai jantung demokrasi, apapun bentuknya. Dengan faham demokrasi yang demikianlah yang telah mendorongnya terus melaju dalam arus poltik nasional.
Dalam beberapa monetum penting sejarah perubahan bangsa, ia selalu tampil menjadi sosok yang digandrungi oleh rakyat dan disegani oleh lawan, mulai dari perannya dalam menggerakan People Power pada gerakan reformasi 1998, dan menjadi icon kekuatan Poros Tengah yang menyimbolkan kekuatan politisi dari kalangan masyarakat sipil hingga dicalonkannya menjadi presiden pada tahun 2004.

Membaca buku ini tidak saja memperkenalkan kita pada sosok Amin Rais yang brilyan itu, tapi justru memperkenalkan kita pada suatu kultur poltik ideal yang setiap sisinya mencerminkan nilai-nilai demokrasi. Bahkan kekuatan moral seorang politisi sekaligus candikia yang religius, pesan-peasn perjuangan dan demokrasinya tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh zaman, ia adalah sosok yang patut diteladani.

Michel-elqudsi.com

No comments:

Post a Comment